Minggu, 01 Maret 2009

KONSEP DAN TEORI PEMEROLEHAN BAHASA

PENDAHULUAN

Pembeciraan mengenai hipotesis-hipotesis pemerolehan bahasa yang kemudian melahirkan teori-teori tentang pemerolehan bahasa memang telah banyak dibahas dan dikaji para ahli sejak awal tahun 1900-an dan bahkan pada tahun 1845 telah muncul metode “Grammar Translation Metshod”. Dimana pada tahun 1900-an dan 1940 sampai 1950-an lahir kelompok Strukturalisme dan Behaviorisme yang tokoh-tokohnya antara lain John Lock, John B. Watson (1878-1958), dan B.F.Skinner (1904-1990). Lalu kemudian muncul lagi kelompok Rasionalisme dan Kognitivisme Psikologi pada tahun 1960-an dan 1970-an yang dipelopori oleh Noam Chomsky (1928-sekarang). Kemudian lahir lagi kelompok yang menamakan diri sebagai kaum Konstruktivisme pada tahun 1980-an, 1990-an dan awal 2000 (Brown, 2000:12). Para ahli, bahkan masih terus melakukan penyempurnaan dan mencari jawaban terhadap pertanyaan–pertanyaan yang belum terjawab oleh teori-teori sebelumnya, termasuk kita (dosen dan mahasiswa yang bergelut dalam bidang bahasa) merupakan orang yang terlibat dalam usaha ini. Dengan kata lain kita memiliki rasa ingin tahu dan perhatian besar (curiosity and interest) terhadap persoalan ini.

Dari teori-teori tersebut diatas tentu akan menghasilkan metode atau pendekatan dalam pengajaran bahasa sebagai manfaat praktis (practical significance) teori-teori tersebut. Mulai dari metode tertua “Grammar Translation Method” (1845-1900) sampai dengan yang ada sekarang ini, yang kita kenal dengan istilah “Communicative Approaches” (1985-sekarang) yang diawali oleh munculnya “Hipotesis Krashen” kemudian menjadi teori yang paling banyak dijadikan acuan dalam pengajaran bahasa, khususnya bahasa kedua (second language acquisition).

Pertanyaanya adalah “How important is the theory need to know and understand?” Jawabanya adalah seperti yang dikatakan Freeman dan Long (1994) bahwa teori dapat meluruskan cara kita melihat suatu persoalan (Ghazali, 2000:13). Lebih lanjut Freeman dan Long (1994) menjelaskan ada dua macam sifat teori. Pertama, adalah teori yang bersumber dari hasil pengamatan empirik yang biasanya dirumuskan setelah setelah sebuah penelitian diulang beberapa kali kemudian dari pengulangan tersebut didapatkan hasil yang konsisten dan tentu saja didalamnya terdapat rumusan-rumusan, sehingga munculah apa yang disebut dengan “teori”. Kedua, adalah teori semestinya tidak sekedar berisi rumusan kaidah-kaidah (bank of informations) yang diperoleh dari hasil pengamatan empirik, tetapi lebih dari itu, teori harus dapat dipakai untuk memahami gejala yang kita hadapi secara jernih dan jelas. Dengan kata lain teori tersebut dapat memberikan prediksi terhadap keadaan yang akan datang secara tepat (Ghazali, 2000: 13-14).

Dengan demikian bahwa mengetahui dan memahami teori itu sangat penting dan bahkan mendesak, terutama bagi kita semua sebagai masyarakat ilmiah. Dengan demikian kita akan mudah menentukan metode atau pendekatan pengajaran yang lebih baik. Sesuai dengan tuntutan zaman sekarang ini, kita sebagai (guru dan dosen) dituntut untuk lebih mampu memberdayakan peserta didik dengan metode pengajaran dan pembelajaran yang lebih komunikatif, bersahabat, dan menyenangkan yang pada akhirnya peserta didik tidak merasa bosan dan bahkan merasa terzalimi karena tidak mendapatkan sesuatu yang lebih (sesuai dengan tuntutan zaman dimana mereka akan hidup) disebabkan oleh guru atau dosenya yang hanya mengajar dengan gaya “turun temurun”.

URAIAN SINGKAT:

A. Pemahaman Istilah (Acquisition dan Learning, Nature dan Nurture, dan Competence dan Performance)

Sebelum kita berbicara tentang teori pemerolehan bahasa, sebaiknya kita menyamakan persepsi kita terhadap beberapa istilah penting yang biasanya dipergunakan dalam topik semacam ini yang bisa saja menimbulkan salah pengertian (misconception) diantara kita, diantaranya, istilah pemerolehan (acquisition) dan pembelajaran (learning), nature dan nurture, serta istilah kompetensi (competence) dan performasi (performance). Wilkins (1974) dalam Ellis (1990:41) memberikan pengertian terhadap perbedaan istilah pemerolehan dan pembelajaran seperti berikut:

The term acquisition is the process where language is acquired as a result of natural and largely random exposure to language while the term learning is the process where the exposure is structured through language teaching. In other word, that acquisition and learning were synonymous with informal and formal language learning context.

Meskipun masih banyak pengertian lain yang diberikan para ahli mengenai kedua istilah tersebut, namun kita dapat membedakan keduanya dan menarik kesimpulan bahwa pemerolehan merupakan proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya (native language/mother tongue) sedangkan “pembelajaran adalah proses yang dilakukan (umumnya dewasa) dalam tatanan yang formal, yakni, belajar di kelas/di luar (indoor dan outdoor class) dan diajarkan oleh guru. Lebih rinci mengenai aspek perbedaan keduanya bisa dilihat pada Ellis (1990) dalam bukunya “Instructed Second Language Acquisition. Namun demikian ada juga yang menggunakan istilah “pemerolehan bahasa kedua” (second language acquisition) seperti Krashen (1972), Nurhadi, dan lain-lain.

Disamping kedua istilah diatas, yang bisa menimbulkan salah pengertian kita terutama karena kemiripan pengucapannya adalah sifat pemerolehan yaitu nurture atau nature. Istilah tersebut memang lahir dari kedua tokoh yang berlainan aliran dan bidang kajian yang berbeda pula, dimana istilah nurture merupakan kesimpulan dari teori Behaviorisme yang mengatakan bahwa otak manusia dilahirkan seperti tabulrasa (blank slate/piring kosong) dimana blank slate ini akan diisi oleh alam sekitarnya. Pelopor moderen dalam pandangan ini adalah seorang psikolog dari Universitas Harvard yaitu, B.F. Skinner. Sedangkan istilah nature adalah lahir dari teori Innatisme yang dipelopori oleh Noam Chomsky (1960an) yang mengatakn bahwa manusia dilahirkan dengan Innate Properties (bekal kodrati) yaitu bersama Faculties of the Mind (kapling minda) yang salah satu bagiannya khusus untuk memperoleh bahasa, yaitu Language Acquisition Device (piranti pemerolehan bahasa). Karena alat ini berlaku semesta, maka kemudian Chomsky merumuskan teorinya dengan istilah Universal Grammar (tatabahasa semesta). Jadi perkembangan pemerolehan bahasa anak akan seiring dengan pertumbuhan faktor biologisnya (Ghazali: 2000 dan Dardjowidjojo: 2005).

Meskipun terjadi perbedaan sifat pemerolehan seperti disebutkan diatas, namun antara Nurture dan Nature sama-sama saling mendukung. Nature diperlukan, karena tanpa bekal kodrati makhluk tidak mungkin anak dapat berbahasa sedangkan nurture diperlukan, karena tanpa input dari alam sekitar bekal yang kodrati itu tidak akan terwujud (Dardjowidjojo, 2003:237).

Dari teori Universal Grammar Chomsky tersebut diatas muncul istilah competence dan performance. Chomsky (1960) mengatakan bahwa: “Competence: What we know - Our deep structure - What we are capable of doing while Performance: What we show - Our surface structure - What we do” (Elliot, 1996:7-9). Dalam pengertian lain bisa juga dikatakan bahwa yang disebut dengan kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari, sedangkan performasi merupakan kemampuan memahami dan melahirkan atau menerbitkan kalimat-kalimat baru (Chaer, 2003:167). Sehingga ketika seseorang memiliki kompetensi berbahasa yang baik dan benar maka sudah bisa dipastikan orang tersebut akan sukses dalam performasinya (spoken&written language), kecuali orang tersebut mengalami language disorders seperti dyslexia dan aphasia.

B. Teori – Teori Pemerolehan Bahasa

1. Teori Behaviorisme

Teori ini mulanya, terilhami oleh seorang filusuf Inggris yang hidup pada abad ke- 17 salah satu tokoh Empirisme yaitu John Lock yang kemudian dianut dan disebarluaskan oleh John B. Watson seorang tokoh terkemuka alisan Behaviorisme dalam Psikologi. Meskipun sebelumnya telah dijelaskan oleh seorang filusuf dan juga negarawan asal Inggris yang bernama Francis Bacon di awal abad ke-17 baru kemudia dimunculkan oleh Lock dan John B. Watson dalam berbagai tulisan mereka di jurnal-jurnal ilmiah (Encarta Encyclopedia:2006). Mereka mengklaim bahwa otak bayi waktu dilahirkan sama sekali seperti kertas kosong/piring kosong (tabularasa/blank slate), yang nanti akan diisi dengan pengalaman-pengalaman. Dengan kata lain bahwa semua pengetahuan dalam bahasa manusia yang tampak dalam perilaku berbahasa adalah merupakan hasil dari integrasi peristiwa-peristiwa linguistik yang diamati dan dialami manusia (Chaer, 2002:173).

Sejalan dengan anggapan diatas mereka (kaum behaviorisme) menganggap bahwa pengetahuan linguistik terdiri hanya dari rangkaian hubungan – hubungan yang dibentuk dengan cara pembelajaran “stimulus – respons”, dimana bahasa diasumsikan sebagai sekumpulan tabiat-tabiat atau perilaku-perilaku yang kemudian ditulis pada tabularasa otak anak.

Anggapan ini kemudian mendapat kritik dari para ahli lain terutama dari Chomsky pakar teori transformasi generative. Chomsky menganggap bahwa kaum behaviorisme tidak mampu menjelaskan proses pemerolehan bahasa itu sendiri. Kritik dari Chomsky ini mengundang reaksi dari pengikut kaum behaviorisme seperti Jenkin dengan teori mediasinya dengan mengatakan bahwa: “Learners receive linguistic input from speakers in their environment and they form associations between words and object or events”. Tetapi tetap saja apa yang mereka usahakan tidak mampu menjawab faktor kreatifitas dalam penggunaan bahasa serta bagaimana kompetensi bahasa digunakan untuk membuat dan memahami kalimat-kalimat baru yang belum pernah dibuatnya, begitu pula dengan pengikutnya yang lain seperti Bloomfield and Skinner yang mendasari pada hipotesis tabularasa dan teori stimulus-respons.

2. Teori Innetisme

Teori ini dipelopori oleh Noam Chomsky pada awal tahun 1960-an sebagai bantahan terhadap teori belajar bahasa yang dilontarkan oleh kaum behaviorisme tersebut. Noam Chomsky berkesimpulan bahwa teori behaviorisme tidak mampu menjelaskan proses pemerolehan bahasa dan kompetensi linguistiknya. Pemerolehan bahasa bukan didasarkan pada nurture (pemerolehan itu ditentukan oleh alam lingkungan) tetapi pada nature, artinya anak memperoleh bahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Anak tidak dilahirkan sebagai tabularasa, tetapi telah dibekali dengan Innate Properties (bekal kodrati) yaitu Faculties of the Mind (kapling minda) yang salah satu bagiannya khusus untk memperoleh bahasa, yaitu “Language Acquisition Device”, karena alat tersebut berlaku semesta maka kemudian Chomsky merumuskan teorinya dengan istilah Universal Grammar (tatabahasa semesta).

Lebih lanjut Chomsky mengatakan bahwa lingkungan hanya berfungsi sebagai pemberi masukan dan Language Acquisition Device itulah yang akan mengolah masukan (input) dan menentukan apa yang dikuasai lebih dahulu seperti bunyi, kata, frasa, kalimat, dan seterusnya (Clark&Clark, 1977). Dengan demikian, bahwa kemampuan yang dimiliki manusia telah terprogram secara biologis agar manusia dapat belajar bahasa. Kemudian kemampuan itu tumbuh dan berkembang sejalan dengan bertumbuhan biologis anak (otak, organ bicara, dll) yang pada akhirnya mampu mempelajari kaidah tata bahasa. Sehingga kalimat-kalima yang belum pernah didengar sebelumnya akan tetap mampu di ujarkan secara benar dan konsisten karena ada LAD/PPB tersebut.

3. Teori Kognitivisme

Berawal dari pernyataan Jean Piaget (1926) yang berunyi “logical thinking underlies both linguistic and nonlinguistic developments”, kemudian memancing para teoritis (1970-an) untuk kembali mengembangkan teori kognitif yang semula dikenal dalam ilmu psikologis, untuk menerangkan pertumbuhan kemampuan berbahasa yang mereka anggap belum memuaskan dari penjelasan Chomsky diatas. Mereka mengatakan bahwa anak lebih dahulu mengembangkan pengetahuan dunia secara umum (nonlinguistic knowledge), barulah ia kemudian menerapkan kemampuan bahasanya (linguistic knowledge). Dalam kaitannya dengan perkembangan kemampuan berbahasa, kaum kognitivisme mengatakan bahwa anak harus lebih dahulu memiliki kemampuan memetakan pikiran logis terhadap kategori dan hubungan yang ada dalam bahasa. Pemetaan tersebut terjadi melalui proses asosiasi (bagaimana proses asosiasi ini terjadi silakan lihat Chaer, 2002). Perbedaan dan kesamaanya dengan teori Chomsky yaitu:

INNATISME

KOGNITIVISME

Perbedaan

1

Kemampuan kognitif telah terprogram sebelum ia dilahirkan

Kemampuan kognitif itu tumbuh akibat anak berinteraksi dengan lingkungannya

2

Berbicara mengenai kemampuan belajar bahasa

Berbicara tentang kemampuan berpikir logis

3

Peran berpikir logis tidak penting

Peran berpikir logis sangat penting

4

Kemampuan belajar bahasa merupakan ciri unik yang hanya dimiliki manusia

Kemampuan berpikir logis merupakan ciri unik yang hanya dimiliki manusia

5

Perkembangan knowledge of language berkembang secara terpisah dari perkembangan berpikir logis

Aspek berpikir logis mestinya berkembang lebih dahulu sebelum anak mengembangkan bahasanya

Persamaan

1

Sama-sama memiliki pandangan tentang pertumbuhan kemampuan bahasa

2

Sama – sama berpendapat bahwa apa yang diperoleh anak adalah categories and rules of language

3

Sama – sama menyetujui bahwa kedua pengetahuan itu (categories and rules of language) terletak didalam otak pembelajar bahasa

Sumber: Ghazali (2000); Owens (1992)

4. Teori Interaksionisme

Teori ini berpandangan bahwa baik faktor psikologis maupun sosial, keduanya ikut mengambil peran dalam proses pemerolehan bahasa kedua. Teori ini banyak dipengaruhi oleh hasil penelitian psikolinguistik experimental dan psikologi kognitif. Kaum Interaksionis menekankan pentingnya interaksi yang berlangsung antara individu, antara individu dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan kelompok lain dan seterusnya sehingga membentuk “conversations”. Karena dengan adanya kondisi demikian akan membantu pembelajar bahasa untuk mendapatkan akses pada pengetahuan baru tentang bahasa target, tentu saja hal ini akan terjadi bila didukung penuh oleh si interlocutor (orang yang diajak bicara) (Lightbown & Spada, 1999:43). Jadi, baik Hatch (1992), Teresa Pica (1994), dan Michael Long (1983) mengatakan bahwa “much of L2 acquisition takes place through conversational interaction, since what the learners need is not a simplification of linguistic form but an opportunity to interact with other speakers, in way which lead them make adaptation” (Lightbown & Spada, 1999:43).

Terlepas dari segala kelebihan yang melekat pada teori interaksionis ini, bukan berarti tanpa kritik, seperti, yang dialami oleh teori sebelumnya. Antara lain, kritiknya adalah bahwa ada banyak hal yang mesti diketahui oleh pembelajar yang tidak ada bersama input itu, sehingga perlu kembali merujuk ke teori innatisme, seperti prinsip-prinsip bawaan yang dikatakan Chomsky.

5. Teori Pemerolehan Bahasa Kedua dari Krashen (Second Language Acquisition)

Ada Sembilan hipotesis yang diajukan Stephan Krashen mengenai pemerolehan bahasa kedua (Ghazali, 2000 dan Chaer, 2002), tetapi berikut hanya akan dibahas lima diantaranya yang dianggap paling berpengaruh dalam proses pemerolehan bahasa kedua/target. Kelima hipotesis itu adalah sebagai berikut:

1. Hipotesis Pemerolehan-Pembelajaran (Acquisition-Learning Hypothesis)

Hipotesis ini menyatakan bahwa ada dua sistem belajar bahasa kedua, setiap sistem terpisah satu sama lain namun saling terkait. Kedua hal tersebut adalah acquired system dan learned system. Acquired system mengacu ke proses bawah sadar yang dikembangkan oleh seorang anak ketika belajar bahasa pertmanya (native language). Selama proses pemerolehan ini biasanya anak tidak terlalu fokus dengan structure, tetapi lebih pada meaning. Sedangkan learned system mengacu pada usaha anak untuk menguasai structure sederhana bahasa kedua. Biasanya hal ini dilakukan dalam situasi yang formal.

2. Hipotesis Monitor (Monitor Hypothesis)

Hipotesis ini menjelaskan bagaimana hubungan anatara acquired system dan learned system tersebut diatas. Acquired system itu akan bertindak sebagai pengambil inisiatif dalam performasi. Sedangkan pengetahuan yang didapat dari learned system berperan sebagai penyunting dan pengoreksi apabila ada kesalahan dalam structure. Tentu saja peran learned system sebagai penyunting akan sukses bila memenuhi tiga macam kondisi berikut: 1). Pemakai bahasa memiliki waktu yang memadai/tidak terburu-buru. 2). Pemakai bahasa memusatkan perhatiannya pada language structure yang diperlukan. 3). Pemakai bahasa mengetahui structure yang diperlukan pada saat ia berinteraksi.

3. Hipotesis Urutan Alamiah (Natural Order Hypothesis)

Hipotesis ini menyatakan bahawa dalam proses pemerolehan bahasa anak-anak memperolehan unsur-unsur bahasa menurut urutan tertentu yang dapat diprediksi sebelumnya. Urutan yang dimaksud bersifat alamiah, yaitu, melalui empat tahap: 1. Producing single words.2. Stringing words together based on meaning and not syntax. 3. Identifying the elements that begin and end sentences. 4. Identifying the different elements within sentences and can rearrange them to produce questions.

4. Hipotesis Masukan (Input Hypothesis)

Hipotesis ini menerangkan tentang proses pemerolehan bahasa pada pembelajar bahasa kedua. Pemerolehan itu dapat terjadi apabila masukan (input) itu dapat dipahami (comprehensible). Comprehensible input itu bisa didapatkan melalui tuturan dan bacaan yang dapat dipahami maknanya. Untuk memahami input itu pembelajar bisa dibantu dengan penguasaan tatabahasa yang telah diperoleh sebelumnya, pengetahuan tentang dunia, penjelasan atau gambar-gambar dan struktur tersebut dipahami dan bantuan penerjemahan.

5. Hipotesis Saringan Afektif (Affective Filter Hypothesis)

Hipetesis ini menekankan akan pentingnya faktor dalam diri pembelajar bahasa (external factors) dalam mensukseskan pemerolehan bahasanya. Faktor-faktor tersebut yaitu: motivasi (motivation), keyakinan diri (self-confidence), dan rasa takut (anxiety). Jika pembelajar memiliki motivasi dan kepercayaan diri yang tinggi maka ia akan memiliki peluang lebih besar untuk sukses. Sebliknya jika ia masih memiliki rasa takut (anxiety) untuk mengungkapkan sesuatu yang diperolehnya atau melakukan latihan, maka akan terjadi mental block (saluran mental yang buntu) sehingga akan menghambat proses pemerolehan bahasanya. Mental block itu akan menghambat comprehensible input ke dalam Language Acquisition Device.

KESIMPULAN

Terlepas dari segala bentuk kelebihan dan kekurangan yang dimiliki masing-masing teori diatas, ini merupakan usaha keras para ahli, baik ahli bahasa sendiri maupun ahli psikologi untuk menemukan jawaban terhadap permasalahan berbahasa (language teaching and learning) yang begitu kompleks, yang mana tujuan akhirnya adalah bagaimana mereka menemukan metode pengajaran bahasa yang lebih baik sesuai tuntutan zaman. Tentu saja, setiap teori yang ada memiliki metode dan tempat tersendiri didalam pengajaran bahasa sesuai dengan karakteristiknya masing-masing serta fenomena yang ditemukannya. Namun, dalam pembahasan diatas hanya mengidentifikasi teori–teori seputar pemerolehan bahasa, tidak membahas metode pengajaran bahasa.

Teori Behaviorisme lebih banyak menekankan pada “Say what I say” (imitation, practice, reinforcement, and habit formation). Teori Innetisme mengatakan “It’s all in your mind” (Language Acquisition Device). Sedangkan teori Interaksionis lebih pada aspek sosial “there is a little help from your friends” (conversational interaction). Kemudian teori Kognitif berusaha menggabungkan kedua teori sebelumnya yaitu teori Behaviorisme dan Innetisme, namun penekanannya dititikberatkan pada aspek kognitif (the power of logical thinking) sesuai dengan pernyataan Jean Piaget yang berunyi “logical thinking underlies both linguistic and nonlinguistic developments”. Yang terakhir adalah hipotesis pemerolehan bahasa kedua dari Krasen yang bila kita perhatikan waktu kemunculannya adalah setelah teori-teori yang disebutkan diatas yaitu sekitar tahun 1970-an hingga saat sekarang ini masih sangat mendominasi dunia pengajaran bahasa. Krasen menekankan pengajaran, antara lain: fokus pada makna daripada bentuk, ciptakan suasana kelas yang lebih komunikatif dan bermakna, pusatkan pembelajaran pada siswa sehingga meraka merasa bebas mengungkapkan apa yang telah diperoleh tanpa dikoreksi lebih dahulu, dan ciptakan suasana kelas yang membangkitkan motivasi pembelajar untuk memaksimalkan proses pemerolehan bahasa kedua atau bahasa target. Serta hindari segala bentuk hukuman atas kegagalan pembelajar karena itu akan mematikan kreatifitas mereka (performance).

DAFTAR PUSTAKA

Brown, H. Douglas. 2000. Principles of Language Learning and Teaching. New Yersy: Prentice-Hall, Inc.

Chaer, Abdul. 2002. Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.

Clark, Herbert H.&Clark, Eve V. 1977. Psychology and Language: An Introduction to Psycholinguistics. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor.

Ellis, Rod. 1990. Instructed Second Language Acquisition. Cambridge: Basil Blackwell, Inc

Ghazali, Syukur. 2000. Pemerolehan dan Pengajaran Bahasa Kedua. Jakarta: Dikti Depdiknas.

Lightbown, Patsy M&Spada, Nina. 1999. How Language are Learned. Oxford: University Press.

Owens, Robert E JR. 1992. Language Development. New York: Macmillan Publishing Company.

Electronic Book. 2006. Encarta Encyclopedia

1 komentar: